Ada kesalah pahaman ketika
kita mendengar pekik “Merdeka”, banyak yang mengaggap pekik-an itu identik dengan
salam sebuah partai politik atau organisasi pergerakan mahasiswa. Akan tetapi,
jika kita rajin menelisik sejarah, rupanya pekik “Merdeka” itu adalah salam
nasional bangsa Indonesia.
Penetapan pekik ‘merdeka’ sebagai salam nasional bangsa Indonesia diputuskan melalui Maklumat pemerintah tanggal 31 Agustus 1945. Lalu, salam nasional ini resmi berlaku sejak tanggal 1 September 1945.
Bung Karno mengaku terinspirasi dari nabi Muhammad. "Sebagaimana nabi besar Muhammad s.a.w, memperkenalkan salam untuk mempersatukan umatnya, kami pun menciptakan satu salam kebangsaan bagi bangsa Indonesia," katanya saat diwawancara Cindy Adams.
Namun, setelah lengsernya sukarno pekikan itu sudah jarang sekali disuarakan. dan Ironisnya, sebagian orang di generasi sekarang menganggap salam nasional itu hanya identik dengan slogan politik milik PNI dan PDIP atau Organisasi pergerakan mahasiswa milik GMNI.
Menurut Wasekjend PDI Perjuangan, Achmad Basarah, meskipun tidak dipraktekkan lagi sejak era orde baru, namun sejak rezim orde baru hingga sekarang ini tak satupun Presiden yang mencabut maklumat tanggal 31 Agustus 1945 itu.
“Secara yuridis ketatanegaraan, maklumat pemerintah itu tetap berlaku sebagai aturan main ketatanegaraan kita. Salam nasional itu masih sah sebagai salamnya bangsa Indonesia,” kata Achmad Basarah.
Di dalam Maklumat pemerintah tanggal 31 Agustus 1945 itu
dijelaskan tentang tata-cara pengucapan salam nasional itu.
“Tangan kanan naik setinggi telinga. Jari lima bersatu. Apakah
artinya itu? Negara kita telah merdeka. Suara mengguntur mengucapkan salam
nasional: Merdeka!,” begitulah tata-cara sederhana pengucapan salam nasional
itu.
Pada saat di Surabaya tanggal 24 September 1955, Bung Karno menjelaskan filosofi di balik pekik ‘Merdeka’ itu:
“Pekik merdeka, saudara-saudara, adalah “pekik pengikat”. Dan bukan saja pekik pengikat,
melainkan adalah cetusan daripada bangsa yang berkuasa sendiri, dengan tiada ikatan imprealisme—dengan tiada ikatan penjajahan sedikit pun. Maka oleh karena itu, saudara-saudara, terutama sekali fase revolusi nasional kita sekarang ini, fase revolusi nasional belum selesai, jangan lupa kepada pekik merdeka! Tiap-tiap kali kita berjumpa satu sama lain, pekikkanlah pekik “merdeka”!.
"Jadi, salam nasional atau salam merdeka, diucapkan bukan dengan tangan mengepal.
Melainkan tangan kanan diangkat setinggi telinga dengan lima jari terbuka," ungkap Rushdy, kepada JPNN.com.
Tapi menurut versi Achmad Basrah, setelah bangsa Indonesia sukses menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika, salam atau pekik merdeka diucapkan dengan tangan terkepal.
Tapi menurut versi Achmad Basrah, setelah bangsa Indonesia sukses menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika, salam atau pekik merdeka diucapkan dengan tangan terkepal.